Buya Hamka

Profil dan Biografi Buya Hamka Lengkap

Posted on

Dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang Profil dan Biografi Buya Hamka, seorang ulama kharismatik Indonesia. Amat sayang, jika kita sebagai generasi masa kini tidak mengenal tokoh ulama yang satu ini. Selamat membaca.

A. Latar Belakang Kehidupan dan Pendidikan Buya Hamka

Haji Abdul Malik Karim Amrullah merupakan nama asli dari Buya Hamka yang biasa kita kenal, beliau lahir di desa Tanah Sirih kenagarian Sungai Batang ditepi Danau maninjau, pada tanggal 14 Muharam 1326 Hijriah bertepatan pada tanggal 17 februari 1908.

Beliau dibesarkan dalam keluarga yang alim dan taat menjunjung tinggi agama.Ayahnya bernama Syekh Abdul Karim Amrullah. Beliau mengawali pendidikannya dengan membaca Al-Qur’an bertempat dirumahnya sendiri ketika beliau pindah dari maninjau ke Padang Panjang pada
tahun 1914. Dan setahun kemudian ketika umur 7 tahun beliau dimasukkan oleh ayahnya ke sekolah desa.

Pada tahun 1916 beliau menimba ilmu di sekolah Pasar Usang Padang Panjang. Pagi hari beliau pergi ke sekolah dan sore harinya ia berada di surau
bersama teman sebayanya. Inilah kebiasaan beliau sehari-hari pada masa kecilnya.

Buya Hamka
Buya Hamka

Dua tahun kemudian ketika beliau berusia 10 tahun ayahnya mendirikan sebuah pesantren di Padang Panjang dengan nama Sumatera Thawalib. Dengan harapan kelak Hamka menjadi Ulama seperti dirinya, kemudian Hamka kembali menimba ilmu dipesatren ini.

Kehausan Hamka dalam menunutut ilmu memang terlihat sangat besar sekali. Ketidak puasannya dengan metode yang ia dapat dari ayahnya menyebabkan beliau berusaha meninggalkan tanah sumatera menuju tanah jawa, beliau mengawali pengembaraannya dari kota Yogyakarta. Dari sinilah kelihatan bahwa kota ini mempunyai makna yang berarti dalam pertumbuhan sebagai pejuang dan pemikir dikemudian hari. Beliau sendiri mengakui bahwa kota inilah ia menemukan islam sebagai sesuatu yang hidup dan menmberikan sebuah pendirian dan
perjuangan yang dinamis.

B. Karier Buya Hamka

Setelah mengadakan perjalanan ke Yogyakarta beliau kembali tanah kelahirannya Minangkabau sejak itu ia memulai menapaki jalan yang telah ia pilih sebagai tokoh dan ulama dalam arus pemikiran dan pergerakan Islam di Indonesia dalam usia 17 tahun, Hamkan telah tumbuh menjadi pemimpin dalam lingkungannya.

Kehadiran Hamka dalam urusan pembaharuan pemikiran Islam di negri aslnya tersebut belum membawa prubahan yang berarti.Dimata masyarakatnya beliau hanya di anggap sebagai tukang pidato bukan ahli agama. Inilah salah satu sebabnya beliau bertolak ke kota Makkah pada tahun 1927.

Setelah beliau sampai di kota Makkah ia bersama jema’ah lainnya mendirikan sebuah organisasi persatuan Hindia Timur. Organisasi ini bertujuan untuk memberikan pelajaran agama, termasuk manasik Haji kepada jema’ah haji Indonesia, Namun untuk keperluan ini organisasi yang beliau dirikan harus memiliki izin dari Amir Faisal. Dengan kemampuan bahasa arab yang pas-pasan Hamka tampil sebagai Ketua Delegasi mengahadap Amir Faisal terebut.

Setelah menyelesaikan ibadah Haji, Hamka nampaknya tidak menetap di Makkah, ia tetap memutuskan untuk kembali ke tanah air.Kepulangan beliau membawa perubahan besar dalam pandangan masyarakatnya Hamka yang dulunya dianggap sebagai tukang pidato sekarang dianggap sebagai orang alim, dengan menyandang gelar Haji, gelar yang memberikan Legitimasi sebagai ulama dalam pandangan masyarakat Minangkabau.

Demikian jalan menuju kecermelangan didalam hidupnya. Predikat keulamaannya semakin hari semakin di akui. Maka ketika kongres Muhammadiyah ke 19 di Bukit Tinggi pada tahun 1930 diadakan, Hamka tampil sebagai penyaji dengn judul “Agama Islam dan Adat Minangkabau” dan pidato ini disempurnakan beliau menjadi sebuah buku yang berjudul “Islam dan Adat Minangkabau”.

Dan ketika diadakan Mukhtamar Muhammadiyah yang ke-20 di Yogyakarta pada tahun 1931 beliau muncul sekaligus menjadi penceramah dengan judul “ Muhammadiyah di Sumatera”. Dalam suasana Mukhtamar ini Buya Hamka tampil dengan prima, beliau mampu membuat para hadirin yang mendengar pidatonya terisak-isak. Itulah sebabnya pengurus besar Muhammadiyah Yogyakarta mengangkat menjadi Mubaliq besar Muhammadiyah di makasar.

Sekembalinya beliau dari makasar, buya Hamka mendirikan Kuliatul Mubaliqin di Padang Panjang. Pada tahun 1936 beliau berangkat ke Medan, pergi ketempat yang ia cita-citakan sejak lama, yaitu menjadi seorang pengarang.

Di kota ini Buya Hamka telah berhasil menerbitkan majalah pedoman Masyarakat. Meskipun kota Medan telah membawa angn segar perjalanan kariernya, namun dikota inilah untuk kesekian kalinya mengalami traggedi yang amat dahsyat.

Ia dituduh melarikan diri pulang setelah Jepang mengalami kekalahan. Dia juga di tuduh sebagai kelaburator,penjilat, sehingga Hmaka memakai istilahnya sendiri “lari malam” dari kota medan. Rusjdi menceritakan bagaimana getirnya pengalaman itu baginya.Diceritakan pada anak-anaknya “jika tidak ada iman, barang kali ayah sudah bunuh diri waktu itu”.

Pada tahun 1949 Hamka melangkahkan kakinya ke Ibu kota yakni Jakarta, Jakarta telah membawanya sebagai politikus. Ia telah menjadi sebagai seorang anggota partai Masyumi. Pada tahun 1955 berlangsung pemilihan umum di Indonesia, dan Hamka terpilih sebagai konstituante dari partai Masyumi.

Sesuai dengan kebijakan partai Masyumi, Hamka tampil dengan usul mendirikan Negara Islam yang berdasarkan Al-qur’an dan Sunnah Nabi. Antara tahun 1951-1958, beliau juga pernah menduduki beberpa jabatan lainya, seperti anggota Badan Konsultasi Kebudayaan dan Pendidikan, anggota Masyuri, Dosen pada universitas Muhammadiyah dan Doktor Mustopo, pegawai tinggi dan penasehat Menteri Agama RI.

Pada masa-masa ini, perkembangan politik di Indonesia bertambah buruk setelah melaksanakan Demokrasi Terpimpin.Hal yang sangat member pengaruh bagi perkembangan dan peranan kalangan Islam yang dipenjarak seperti Muhammad Roen, Muhammad Isha Ashari dan Hamka sendiri10.

Hamka sebagai seorang ulama mendapat fitnah menyelenggarakan rapat gelap menyusun rencana pembunuhan terhadap presiden Soekarno. Dan untuk memojokan Hamka maka Lembaga Kebudayaan Rakyat yang merupakan Badan Kebudayaan PKI menuduh Hamka sebagai Plagiator karya Mustafa Luthfi Al-manfaltuhi. Akhirnya Hamka mengalami kehidupan yang dramatis di jebloskan dalam penjara. Dari 27 Januari 1964 sampai 23 Januari 1966, demikian pengakuan Hamka, saya meringkuk dalam tahanan sebagai kebiasaan nasib orang-orang yang berpikiran merdeka dalam Negara yang totaliter.

Sesudah tanggal 23 Januari 1966 saya masih di kenakan tahanan rumah dua bulan dan tahanan kota dua bulan pula. Pada tanggal 26 Mei 1966 saya bebas sama sekali.

Berkaca dari pengalaman di atas, Hamka kemudian memusatkan perhatianya kepada kegaitan dakwah, sekitar 1967 setelah tegaknya Orde Baru kepemimpinan Mayor Jenderal Soeharto, Majalah Panji Masyarakat kembali di terbitkan dan Hamka kembali menjadi pimpinan umumnya.

Hamka juga sering dipercayai mewakili pemerintah Indonesia berbagai pertemuan Islam Internasional, seperti konferensi Negara-negara Islam di Rabat (1968), Mukhtamar Mesjid di Mekkah dan seminar tentang Islam dan peradapan Negara tetangga Malaysia. Pada tahun inilah Hamka mendapat penganugerahan gelar Doktor kehormatan.

Dan ini merupakan gekar kedua yang diperoleh Hamka masa jaya beliau di dunia keilmuan, gelar Doktor Honoris Causa diberikan oleh Universitas Kebanggan Malaysia karena beliau memiliki jasa dalam perkembangan bahasa dan pengetahuan Islam. Dalam suasana penganugerahan gelar tersebut Tun Abdul Razak berkata “Hamka adalah kebangsaan seluruh Nusantara dan dunia zaman ini“.

Dalam acara tersebut Hamka telah menyampaikan sebuah pidato yang berjudul “Bahasa Melayu dalam Dakwah Islam”14.Jasa Hamka yang besar dalam memimpin Majelis Ulama Indonesia.

Dua tahun sebelum pementasan yang terakhir, Buya Hamka sejak tahun 1975 menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia mengundurkan diri dari jabatan tersebut. Setelah dua bulan mengundurkan diri tersebut, Hamka masuk rumah sakit karena serangan jantung yang berat. Ia terbaring dalam rumah sakit sekitar satu minggu, dan pada tanggal 24 Juli 1981 Hamka menghembuskan nafasnya yang terakhir sebagai pertanda telah rampungnya tugas di alam fana ini.

C. Karya-karya Buya Hamka

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih ppopuler dengan Buya Hamka termasuk penulis yang sangat produktif.Ia telah berhasil menulis dalam berbagai dimensi, seperti Sejarah, Filsafat, Tasawuf, Politik, Akhlaq, Tafsir dan yang tak kalah pentingnya dalam dunia Sastra. Berikut karya-karya Buya Hamka.

No Judul, Penerbit dan Tahun Penerbitan
1 Merantau ke Deli, Bulan Bintang, Jakarta, 1977
2 Di Bawah Lindungan Ka’bah, Bulan Bintang, Jakarta, 1979
3 Di bawah Lembah kehidupan, Bulan Bintang, Jakarta, 1979
4 Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Bulan Bintang, Jakarta, 1979
5 Margaretta Gautheir Terjemahan dari karangan Alec Andre Dumas Jr, Bulan Bintang, Jakarta, 1979
6 Kenang-kenangan Hidup, terbagi dalam empat jilid, Bulan Bintang, Jakarta, 1978

 

Selain karya beliau di atas menurut penulis masih ada beberapa karya yang di tulis oleh Buya Hamka seperti Kedudukan Perempuan Dalam Islam, pelajaran Agama Islam, Pandangan Hidup Muslim Prinsip dan Kebijaksanaan Da’wah Islam, dan karyanya yang paling masyhur adalah Tafsir Al-Azhar.

Pada sisi lain, keberadaan Keulamaan Buya Hamka dapat di nilai dari tafsirnya tersebut seperti yang di akui oleh M.Dawam Raharjo : “ Saat terakhir
hidupnya Buya Hamka dikenal sebagai seorang tokoh ulama. Keulamaannya ini dikukuhkan oleh kedudukannya sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia yang pertama.

Sudah tentu predikat ini tidak lahir sekedar keputusan politik, ia sebelumnya sebagai ulama, paling tidak dari karya besarnya Tafsir Al-Azhar”17
. Riwayat penulisan dari Tafsir Al-Azhar sendiri memang sangat menarik.Buya Hamka Sendiri mengakui dalam pendahuluan penulisan Tafsirnya ini
sebagai Hikmah Illahi18. Pada mulanya Tafsir Al-Azhar ini sudah ditulis dalam majalah Gema Islam sejak Januari 1962 sampai Januari 1964, namun yang baru dapat di muat hanyalah satu setengah juz saja dari juz 18 sampai juz 19.

Kemudian riwayat penulisan tersebut “Mati” karena penulisnya ditimpa musibah pada hari senin tanggal 12 Ramadhan 1383 H bertepatan pada tanggal 23 Januari 1984, saat Buya Hamka sedang memberikan pengajian di hadapan lebih kurang 100 orang kaum ibu Mesjid Al-Azhar, ia ditangkap penguasa lam dan dimasukkan kedalam tahanan. Akan tetapi sengsara yang di alami beliau membawa nikmat, menurut pengakuanya selama 2 tahun dalam tahanan terpisah dengan istri dan anak serta masyarakatnya telah dapat merampungkan penulisan Tafsir Al- Azhar tersebut. Jika saya masih di luar sana demikian jelas beliau, pekerjaan ini tidak akan selesai sampai mati.

Comments

comments