Prof Sarlito Meninggal Dunia

Inilah Tulisan Prof. Sarlito Wirawan Tentang Ahok Sebelum Meninggal Dunia

Posted on

Prof. Sarlito Wirawan Sarwono, mantan dekan fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan juga Guru Besar Psikologi UI yang mendalami bidang Psikologi Sosial dikabarkan meninggal dunia.

Dari informasi yang dihimpun Detik.com (14/11), Sarlito meninggal di RS Cikini, Jakarta Pusat pukul 22.13 WIB, Senin (14/11). Ia mengalami sakit karena luka di lambungnya. Sebelumnya, beliau sempat dirawat di RS Siloam. Tekanan darahnya juga dikabarkan sempat menurun.

Sarlito Wirawan lahir di Purwokerto, 2 Februari 1944. Dia dikenal sebagai seorang psikolog dan penerjemah buku-buku bertemakan psikologi dan menulis buku psikologi.

Menjadi Saksi Ahli Kasus Ahok

Guru Besar Fakultas Ilmu Psikologi Universitas Indonesia (UI) Prof Sarlito Wirawan Sarwono sedianya menjadi saksi ahli dalam kasus dugaan penistaan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Sebelum meninggal, Prof Sarlito sempat diminta oleh Bareskrim Mabes Polri untuk menjadi saksi ahli dalam kasus dugaan penistaan agama. Namun karena kesehatannya mendadak menurun, Sarlito langsung dilarikan ke rumah sakit hingga akhirnya dikabarkan meninggal dunia.

Tulisan Terakhir Prof. Sarlito Tentang Ahok

Tepat tanggal 3 November 2016 atau 11 hari sebelum meninggalnya, Prof. Sarlito menulis sebuah ulasan yang terkesan “membela” Ahok. Mari kita simak beberapa paragraf tulisan beliau sebagaiamana dimuat di Selasar.com dengan tajuk “Mungkinkah Menistakan Agama?:

Dalam salah satu paragram, beliau menyatakan bahwa Islam tidak perlu dibela. “Sebegitu lemahkah Tuhan dan Agama sehingga memerlukan pembelaan dari umatnya?” ujar beliau.

Demonstrasi dalam rangka membela Tuhan makin banyak. Hal ini membuat saya bertanya, “Mungkinkah membela agama?”. Pertanyaan selanjutnya, “Sebegitu lemahkah Tuhan dan Agama sehingga memerlukan pembelaan dari umatnya?

Pandangan saya mungkin tidak begitu populer, tetapi untuk saya, Islam dan Tuhan tidak perlu dibela. Anak-anak, perempuan, orang yang lemah dan tak berdaya, orang fakir dan yatim piatulah yang patut dibela, dan hal itulah yang sesuai dengan ajaran Islam.

Di bagian lain, beliau menyanjung-nyanjung Ahok dan “segudang prestasinya”:

Sudah juga menjadi rahasia umum, walaupun tidak pernah disiarkan di media massa bahwa Ahok mengalokasikan dana untuk perbaikan-perbaikan masjid-masjid di DKI dan sudah banyak takmir masjid se-DKI yang diumrohkan oleh Ahok dengan dana Pemprov DKI.

Dia gusur Kalijodo, tuntas! Tanpa bekas dan tanpa kekerasan, semua menyingkir dengan sendirinya, walaupun sebelumnya ribut-ribut. FPI sendiri yang sering membuat takut masyarakat dengan sweeping-sweeping yang menakutkan, malah tidak pernah sekalipun berhasil menuntaskan masalah lokalisasi.

Sekarang, cobalah bandingkan dengan pemimpin-pemimpin lain yang, misalnya, terkait KPK. 90% mereka muslim, bahkan ada yang perempuan juga. Mereka menghadiri sidang pengadilan lengkap dengan jilbabnya.

Di bagian yang lainnya, beliau menyinggung konteks ayat Al Maidah ayat 51:

Begitu juga dengan surat Al Maidah. Di luar konteks keimanan, tidak ada salahnya kita berteman, bertetangga, bekerja sama, atau bahkan bekerja pada seseorang Nasrani atau Yahudi, atau penganut agama apapun lainnya (Buddha, Hindu dan Konghucu tidak disebut dalam Al Maidah, apakah boleh kita pilih sebagai pemimpin?). 

Takdir Allah berkata lain, Beliau Meninggal Dunia

Qodarullah, belum sempat beliau dipanggil untuk menjadi saksi ahli kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok, ternyata beliau telebih dahulu oleh Allah.

Mari kita petik hikmah di balik semua kejadian ini. Hanya kepada Allah-lah tempat kita kembali.

Comments

comments